Prioritas

Aku bukan orang yang suka menyusun resolusi tahun baru, karena kemarin-kemarin disusun juga nggak kesampean jadi ya males, hahaha. Tapi sebenarnya nggak boleh gitu juga sih, karena saya sendiri merasakan dampak positif sebuah niat yang dituliskan (dan beneran kejadian, bi idznillah!). Jadi mungkin di sini aku mau menuliskan rencana saya ke depan ya…

Aku merasa kayaknya aku semakin jauh dari diri dan visi saya yang sebenarnya, entah kenapa. Apa kebanyakan screen time dan “ngobrol” nggak penting sama orang-orang di WA, ya? Kalau kata teman yang influencer, zaman sekarang salah satu hal yang sama atau lebih berharga daripada uang adalah engagement, so choose how you spend your attention wisely.

Jadi aku pun mempertanyakan…

Pentingkah membalas semua chat yang muncul di grup?

Pentingkah “meramaikan” grup chat? (Toh yang sama-sama bertanggung jawab juga banyaknya diem-diem aja?)

Hahaha, yah, seperlunya ajalah. Suami aja bisa secukupnya aja untuk kerjaan kantornya, kenapa aku nggak bisa juga secukupnya aja untuk kerjaan organisasi? Yang penting memberi manfaat.

Jadi ingat sebuah puisi yang kubuat Februari setahun silam.

I’m just a name,

Happen to be in your phonebook

Sometimes we talk

We laughed it with emoticons, and that’s it

Sometimes I said things

You’ll read it and that’s it

Sometimes I share useful things

You’ll say thanks and that’s it

Someday I’ll be gone,

And I might always be

That one name in your phonebook

You’ll copy paste the condolences,

And that’s it.

Puisi ini kutulis setelah kematian seorang teman. Menariknya, hampir setahun dia berpulang, masih banyak teman-teman yang ingat dan rindu padanya. Beda dengan beberapa selebriti yang meninggal beberapa waktu yang lalu – seringkali aku lupa kalau mereka sudah nggak ada. Saking nggak relevannya mereka terhadap diriku.

Sedih banget, ya. Sering muncul di TV dan media, tapi nggak relevan untuk hidup orang lain. Begitu nggak ada, dengan cepat akan menguap dan terlupakan.

Dan aku, apakah akan jadi seperti itu? Di grup WA yang aku ikuti, mengikuti obrolan ini dan itu, lalu setelah aku tiada aku hanyalah tinggal sebuah nama yang pernah ada dan kemudian terlupakan. Naudzubillahi min dzaalik. Nggak gitu caraku ingin pergi dari dunia ini.

Makanya aku mengawali tahun dengan meninggalkan grup-grup yang nggak membawa manfaat bagiku.

Dan isu-isu di luar sana, yang mana yang penting untuk diketahui dan ditanggapi?

Beberapa bulan terakhir ini aku merasa damai banget nggak baca koran dan nggak nonton berita, because i kinda know, only shit happens out there and besides of praying, there’s nothing much i can do about it. Covid nggak beres-beres? Ya gimana dong, aku mah rakyat jelata cuma bisa pake masker, jaga jarak dan cuci tangan. Tiga-tiganya udah dikerjain, dan selain berdoa, aku ya nggak bisa gimana-gimana juga buat “nyolek” pemerintah buat meningkatkan kinerjanya. Well, i did “nyolek” beberapa teman di pemerintahan dan memberikan beberapa saran, that’s what i can do with my previlege. But that’s it. Aku capek, dan prioritas utamaku adalah ngurus anak. Ngapain aku jungkir balik ngeluhin kapasitas testing Indonesia yang sedikit banget, kalo akhirnya itu bikin anak-anak nggak keurus.

Pada akhirnya, aku hanya ingin memulai tahun ini dengan benar. Usiaku sudah semakin tua, konyol ah kalau kerjanya main-main saja.

Semoga setelah hari ini, aku bisa fokus menulis dan meninggalkan karya-karya yang bermanfaat sebelum aku meninggalkan dunia ini.

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s