Review Webtoon: Girl’s World

Masa SMA, masa di mana keberadaan teman adalah hal yang paling penting bagi kita. Bagaimana cara menjadi teman yang baik? Apa yang boleh dan tidak? Apa yang orang lain suka dan tidak? Dari webtoon “Girl’s World”, saya belajar dari Oh Nari cara menjadi teman yang baik.

Webtoon ini bercerita tentang Oh Nari dan 3 orang sahabat perempuannya. Im Yoona si cantik dari keluarga kaya, Seo Mirae si gadis blasteran Jerman, dan Im Sunji yang cantik (tapi rada oon :p). Awalnya Nari merasa seperti bebek yang berada di tengah para angsa. Seiring berjalannya cerita, ternyata teman-teman “cantik sempurna”-nya Nari juga memiliki luka masing-masing, dan mereka perlahan sembuh karena persahabatan tulus mereka dengan Nari. Yup, Nari mungkin “biasa saja” kalau dibandingkan dengan teman-temannya, tapi semakin lama kita ikuti ceritanya, kita bisa merasakan inner beauty Nari itu nggak main-main ๐Ÿ™‚

Why I Like This Webtoon?

Ceritanya terasa nyata dan relatable. Rasanya seperti kembali lagi ke bangku SMA dan mengenang perasaan yang ada di dalamnya: mencari “geng” yang tepat, bahagia saat diterima oleh teman, dirundung dan difitnah orang lain, bertengkar lalu berbaikan lagi dengan sahabat kita.

Banyak bentuk pertemanan yang dibahas di cerita ini. Mulai dari punya geng yang seru, persahabatan minim dialog ala Mirae & Yoona, hingga yang toxic seperti Yeseul dan Sunji.

Nari yang masih insecure di antara para sahabatnya :))
Walau terlihat sempurna dari luar, para sahabat Nari punya masalahnya masing-masing
Nari, being there at Yoona’s lowest point in their elementary school
Bonding minim dialog ala Mirae dan Yoona
Sunji, letting her toxic friend go

Banyak hal yang bisa kita pelajari dari sini: cara menjadi teman yang baik, membedakan teman yang toxic dan yang tulus, dan pada satu titik, terkadang kita harus move on dan tidak berteman lagi dengan seseorang.

Nari yang belum paham kelebihan dirinya ๐Ÿ™‚
Gotta love yourself first!

Tapi yang paling saya suka, webtoon ini mengajarkan kita untuk lepas dari insecurity kita terhadap kekurangan kita, juga mengajarkan kita untuk mencintai diri kita sendiri ๐Ÿ™‚

This webtoon helped me build my confidence through my toughest time dealing with myself. I would recommend you to read it ๐Ÿ™‚

5 out of 5 stars.

Bonus: bagian yang bikin nangis, surat dari Yoona ke Nari yang terlambat sampai 3 tahun.

#TantanganMaGaTa #Review

Focus, Get Things Done

So little time, so much to do. Potongan lirik lagu lawas ini memang relevan banget untuk kita. Seringkali kita merasa kepala kita ruwet banget isinya, pusing, mana yang harus dikerjakan lebih dulu? Terus seringkali waktu yang bisa kita pakai untuk mengerjakan to-do list kita ternyata malah kelamaan dipakai overthinking :p Saya pun sering begitu. Nah, tahun ini, saya berusaha untuk lebih fokus untuk mengerjakan hal yang penting bagi saya. Tapi sebelum fokus untuk mengerjakan yang penting, penting untuk memahami apa yang penting ๐Ÿ™‚

First Thing First

Memutuskan yang penting. Sumber: https://www.developgoodhabits.com/wp-content/uploads/2017/05/How-to-Make-Decisions-on-What%E2%80%99s-Urgent-and-Important-min.jpg

Saya sering menggunakan matriks ini untuk memilih prioritas. Aplikasinya untuk saya, kira-kira seperti ini:

  1. Urgent & Important : Do – berlaku untuk PJJ dan semua urusan anak, karena amanah suami, ini adalah yang nomer satu. Dan tentu saja urusan ibadah seperti shalat dan tilawah.
  2. Not Urgent & Important : Plan – kalau ini berlaku untuk proyek dan ekskul yang saya ikuti. Misal proyek menulis, desain, dan kepengurusan organisasi. Sekarang memasak naik pangkat dari “delegate” ke “plan” hehe.
  3. Urgent & Not Important : Delegate – yang ini tentu saja semua urusan rumah tangga semacam cuci sapu jemur setrika hehehe. Alhamdulillah diberi rezeki cukup untuk membayar seorang ART.
  4. Not Urgent & Not Important : Eliminate – ngobrol ngalor ngidul nggak penting di WAG, sekrol-sekrol medsos tiada juntrung.. Yah tau sendiri lah, ya :p

Setelah memetakan prioritas kita dengan matriks ini, kita lanjut ke cara eksekusinya, yaitu…

Time Management

Sama-sama punya 24 jam sehari, kenapa shalafush salih zaman dulu bisa bikin ratusan buku, sementara saya udah sebulan naskah masih mentok di BAB 5? Memang ini salah satu cobaan umat zaman now, sih… Oleh karena itu, yuk kita coba merencanakan penggunaan waktu kita dengan sebaik-baiknya. Caranya yaitu:

1 – Make time for important things

Prioritas tertinggi, dikerjakan pertama kali. Biasanya pagi-pagi, setelah subuh, saya berusaha menyempatkan diri untuk zikir pagi, tilawah, sholat duha, dan mengerjakan ujian harian HSI. Kalau sudah mengerjakan 4 itu, plong banget deh rasanya di sisa hari, kayak nggak ada beban. Setelah itu biasanya saya menulis to-do list saya untuk hari ini. Selepas jam 6, mulai deh hari yang gedubrakan karena harus menyiapkan anak sekolah, hehe.

2 – Rencanakan kegiatan kita di antara waktu sholat

Perencanaan seperti ini memudahkan kita untuk sholat di awal waktu. Selain itu, kita juga jadi fokus dengan apa yang kita lakukan karena kita tahu, alokasi waktunya ya memang untuk itu. Misalnya, pagi setelah subuh dan rutinitas pagi saya, saya dedikasikan untuk mengajar anak-anak (baik yang homeschooling maupun PJJ). Tiga puluh menit sebelum adzan zuhur, saya langsung cus ke dapur untuk membuat makan siang. Setelah makan siang, kami pun shalat zuhur.

Nah, selama potongan waktu antara subuh-zuhur itu, saya dilarang kepikiran apapun soal kerjaan atau yang lain-lain. Fokus! Karena waktu ini saya harus hands-on mengurus anak-anak. Prinsipnya, pantang ngerjain urusan sekolah selepas azan zuhur karena itu waktunya bermain bebas ๐Ÿ˜›

Selepas zuhur, baru deh waktu bebas anak-anak dan saya. Saya sudah beberapa kali ditegur oleh suami untuk sangat berhati-hati dalam bergawai di depan anak-anak. Makanya jam online yang saya tetapkan adalah di rentang waktu ini. Selepas ashar adalah waktunya menambah hafalan surat pendeknya si Kakak dan kegiatan fisik/outdoor. Selepas maghrib waktunya makan malam, dan selepas isya adalah waktunya main-main santai, baca buku, atau review pelajaran (kalo aku lagi rajin, lagi diusahakan haha).

3 – Membuat rencana harian dan pekanan

Kembali lagi ke matriks prioritas yang saya jelaskan di awal, biasanya kegiatan harian isinya adalah yang ada di kuadran 1 (penting – mendesak). Sementara kuadran 2 (penting – tidak mendesak) itu bisa disebar sepanjang minggu, tergantung pengaturan kita aja. Misalnya hari Senin adalah waktunya menulis artikel, Selasa ngurus klien, dan lain-lain. Fleksibel aja. Tapi waktu pengerjaannya tiap hari sama, cuma bisa antara zuhur-ashar atau di atas jam 10 malam sekalian. Dari pembagian ini jadi kelihatan, berapa waktu luang yang kita punya, dan apakah kegiatan ‘ekskul’ kita bisa dikerjakan dengan waktu yang tersedia. Jangan sampai kegiatan ekskul kita malah menzolimi alokasi waktu kita untuk hal-hal yang lebih penting.

4 – Mengawali hari dengan tilawah

Kalau nggak salah, memang ada dalil yang mengatakan tentang keutamaan memulai hari dengan membaca Al-Qur’an. Tapi belum sempet nyari uy. Intinya, selain sarapan untuk fisik, kita juga harus sarapan jiwa, dan Al Qur’an lah kuncinya. Selain itu, entah kenapa, kalau saya skip baca Qur’an di pagi hari, rasanya kayak “dikejar-kejar” sesuatu. Tapi kalau sudah baca, rasanya plong banget menjalani sisa hari.

Removing All Distractions

Ngaku deh, yang paling bikin hilang fokus adalah WAG yang trang tring trung, obrolan gak jelas yang kalo ditanggapin eh tau-tau sejam aja dibahas. Saya sedang berusaha membatasi jam online. Jadi, di status WA Saya tulis jam online saya adalah jam sekian. Saya pun nggak ngerasa bersalah kalo nggak fast response. Karena saya juga punya kerjaan di dunia nyata dan Saya bukanlah admin olshop ๐Ÿ˜€

Lagipula, zaman SD dulu kita cuma punya telepon rumah, dan orang-orang menelepon ke rumah memang cuma jika ada yang penting saja. Sekarang mentang-mentang semua bisa online dan cepat, yang receh aja langsung diunggah ke sosmed atau dibahas di grup Whatsapp.

Beberapa grup Whatsapp cukup penting untuk sosialisasi (misalnya grup alumni) dan memang harus ada (grup kepengurusan ekskul untuk koordinasi atau kelas online). Tapi itu juga nggak semuanya harus dilihat. Khusus grup yang isinya mulai nyampah (gosip, ngomongin hal khilafiyah, menyudutkan golongan tertentu, apalagi mulai menjelek-jelekkan agama atau post berbau pornografi), bhaaay gudbhaaay… Izin left grup ya, Kak.

PErihal obrolan di grup Whatsapp ini, seringkali cara terbaik untuk menyikapinya adalah dengan pemikiran “menarik, tapi nggak tertarik”. Saya menghindari kegiatan “meramaikan grup setiap hari”, karenaaaa… DUDE, I SHOULD NOT ALWAYS BE ON MY PHONE. Jadi kalau ada yang bilang “Kok WAG sepi, ya?” Ya biarin aja, Bambaaankkkk… Orang juga punya kehidupan di dunia nyata, kali. Daripada tergoda, beberapa kali saya meletakkan HP saya di kamar saat jam belajarnya anak-anak. Jalan-jalan sore juga nggak bawa HP, paling tinggal kasih tau aja ke suami, kalau jam sekian belum pulang tolong dicari :p (ada beberapa kejadian anak saya jatuh dari sepeda, luka, dan nggak bisa pulang naik sepedanya sehingga saya terpaksa minta dijemput pakai mobil hahaha…)

Begitu pula dengan medsos. Sebenarnya saya merasa banyakan mudharat daripada manfaatnya, ya, terutama Twitter (sungguh refleksi sisi tergelap isi hati manusia, hahaha). Tapi tidak dipungkiri, terkadang kita perlu buka juga kalau kita mau tahu kabar terbaru dari teman-teman kita.

Prinsip saya dalam bermedsos adalah wajib bermanfaat dan/atau membahagiakan. Kalau nggak bikin saya merasa dua-duanya, ya tinggal mute, unfollow, atau quit. Jadi nggak ada lagi tuh ya cerita misuh-misuh gara-gara postingan medsos orang (baik yang kita kenal maupun nggak) yang bikin emosi. Kalo perlu block aja sekalian, hahaha…

Teknik Pomodoro

Sudah mengalokasikan waktu, kondisi sudah kondusif buat kerja, tapi kok rasanya MAGER? Kadang-kadang saya suka merasa jiper duluan dengan kerjaan yang bertumpuk di depan mata, ujung-ujungnya waktu saya jadi habis buat meratapi banyaknya kerjaan, deh. Haha. Nah, untuk kasus orang-orang jiper kayak saya ini, ada teknik menarik yang patut dicoba supaya kita bisa lebih fokus bekerja, namanya Teknik Pomodoro.

SUmber: https://www.djkn.kemenkeu.go.id/files/images/2020/08/What-is-Pomodoro-Technique-and-How-to-Utilize-it-to-Maximize-Productivity_-520×273.jpg

Yup, seperti yang tertulis di gambar, kita bisa memecah waktu kerja kita menjadi per 25 menit saja. Sedikit-sedikit, tapi lama-lama menjadi bukit. Bekerja selama 25 menit tidak terdengar begitu mengerikan, dibanding bekerja selama 3 jam langsung. Setelah 25 menit, kita boleh mengambil rehat 5 menit, untuk kemudian kita ulangi siklus ini sampai 4 kali. Setelah siklus keempat, kita bisa beristirahat selama 15 menit.

Sumber: http://www.djkn.kemenkeu.go.id/files/images/2020/08/1_y1IS6A8SkV45YL8ERRPSYQ.jpeg

Dengan membagi fokus kita ke rentang waktu yang lebih singkat, tanpa terasa, pekerjaan kita sudah selesai, deh ๐Ÿ™‚

Jangan Lupa…

Semua yang saya tuliskan di sini hanyalah rangkaian sebab-sebab kita bisa fokus dalam bekerja dan menjadikan waktu kita semakin berkah. Pada akhirnya, kemudahan itu datangnya dari Allah, maka jangan lupa berdoa dan meminta kepada-Nya agar kita diberi taufik dan hidayah untuk mengerjakan hal-hal yang bermanfaat ๐Ÿ˜‰

Sudah siap untuk fokus dan menyelsaikan pekerjaan kita hari ini?

Prioritas

Aku bukan orang yang suka menyusun resolusi tahun baru, karena kemarin-kemarin disusun juga nggak kesampean jadi ya males, hahaha. Tapi sebenarnya nggak boleh gitu juga sih, karena saya sendiri merasakan dampak positif sebuah niat yang dituliskan (dan beneran kejadian, bi idznillah!). Jadi mungkin di sini aku mau menuliskan rencana saya ke depan ya…

Aku merasa kayaknya aku semakin jauh dari diri dan visi saya yang sebenarnya, entah kenapa. Apa kebanyakan screen time dan “ngobrol” nggak penting sama orang-orang di WA, ya? Kalau kata teman yang influencer, zaman sekarang salah satu hal yang sama atau lebih berharga daripada uang adalah engagement, so choose how you spend your attention wisely.

Jadi aku pun mempertanyakan…

Pentingkah membalas semua chat yang muncul di grup?

Pentingkah “meramaikan” grup chat? (Toh yang sama-sama bertanggung jawab juga banyaknya diem-diem aja?)

Hahaha, yah, seperlunya ajalah. Suami aja bisa secukupnya aja untuk kerjaan kantornya, kenapa aku nggak bisa juga secukupnya aja untuk kerjaan organisasi? Yang penting memberi manfaat.

Jadi ingat sebuah puisi yang kubuat Februari setahun silam.

Iโ€™m just a name,

Happen to be in your phonebook

Sometimes we talk

We laughed it with emoticons, and thatโ€™s it

Sometimes I said things

Youโ€™ll read it and thatโ€™s it

Sometimes I share useful things

Youโ€™ll say thanks and thatโ€™s it

Someday Iโ€™ll be gone,

And I might always be

That one name in your phonebook

Youโ€™ll copy paste the condolences,

And thatโ€™s it.

Puisi ini kutulis setelah kematian seorang teman. Menariknya, hampir setahun dia berpulang, masih banyak teman-teman yang ingat dan rindu padanya. Beda dengan beberapa selebriti yang meninggal beberapa waktu yang lalu – seringkali aku lupa kalau mereka sudah nggak ada. Saking nggak relevannya mereka terhadap diriku.

Sedih banget, ya. Sering muncul di TV dan media, tapi nggak relevan untuk hidup orang lain. Begitu nggak ada, dengan cepat akan menguap dan terlupakan.

Dan aku, apakah akan jadi seperti itu? Di grup WA yang aku ikuti, mengikuti obrolan ini dan itu, lalu setelah aku tiada aku hanyalah tinggal sebuah nama yang pernah ada dan kemudian terlupakan. Naudzubillahi min dzaalik. Nggak gitu caraku ingin pergi dari dunia ini.

Makanya aku mengawali tahun dengan meninggalkan grup-grup yang nggak membawa manfaat bagiku.

Dan isu-isu di luar sana, yang mana yang penting untuk diketahui dan ditanggapi?

Beberapa bulan terakhir ini aku merasa damai banget nggak baca koran dan nggak nonton berita, because i kinda know, only shit happens out there and besides of praying, there’s nothing much i can do about it. Covid nggak beres-beres? Ya gimana dong, aku mah rakyat jelata cuma bisa pake masker, jaga jarak dan cuci tangan. Tiga-tiganya udah dikerjain, dan selain berdoa, aku ya nggak bisa gimana-gimana juga buat “nyolek” pemerintah buat meningkatkan kinerjanya. Well, i did “nyolek” beberapa teman di pemerintahan dan memberikan beberapa saran, that’s what i can do with my previlege. But that’s it. Aku capek, dan prioritas utamaku adalah ngurus anak. Ngapain aku jungkir balik ngeluhin kapasitas testing Indonesia yang sedikit banget, kalo akhirnya itu bikin anak-anak nggak keurus.

Pada akhirnya, aku hanya ingin memulai tahun ini dengan benar. Usiaku sudah semakin tua, konyol ah kalau kerjanya main-main saja.

Semoga setelah hari ini, aku bisa fokus menulis dan meninggalkan karya-karya yang bermanfaat sebelum aku meninggalkan dunia ini.

Jadi, Mau Bikin Apa?

Ditulis sebagai aliran rasa dalam rangka memenuhi tugas orientasi Kampung Komunitas IP Jakarta

Asiknya jadi pengurus yang terospek itu, kita bahkan udah nyemplung duluan ngurusin orang-orang di komunitas, hihihi. Saat anggota lain masih kepo tentang rumah belajar, kita di sini udah kenyang makan asam garam jadi pengurus rumbel :p

Setelah 1,5 tahun jadi pengurus rumbel dan 2 bulan menjalani orientasi kampung komunitas ini, saya makin yakin, kalau kebahagiaan yang sesungguhnya adalah jika saya bisa bermanfaat bagi orang lain. Tapi dalam tugas kali ini saya akan tambahkan kutipan, “If you wanna go fast, go alone. If you wanna go far, go together.”

Alhamdulillah, selama di RBM saya merasa cukup bahagia mengerjakannya karena didampingi oleh teman-teman pengurus yang kompak dan amanah. Ya iyalah, kalo ngurus rumbel tapi partner ngurusnya slow respon, nggak amanah, cuek, mana enak ya kaaan… Penting banget punya teman sevisi yang bisa semangat mencapai tujuan bersama.

Mini project kali ini saya kerjakan bersama sesama teman pengurus (walaupun yang 1 sudah resign). Punya teman untuk brainstorming, rasanya memang lebih menyenangkan ๐Ÿ™‚ semoga mini project ini bisa direalisasikan di RBM sebelum masa kepengurusan saya di sana berakhir. So little time, so much to do. Choose the one that make your live matters.

#babakmain3orientasi#KampungMainKomunitas#komunitasibuprofesional

Panggung dan Papan Tulis

Ditulis sebagai tugas aliran rasa Orientasi Komunitas Ibu Profesional Jakarta

Lah, aku kan pengurus Rumah Belajar Menulis IP Jakarta? Kok masih ikut orientasi?

Yah, itulah nasib manusia teledor, walaupun sudah ada “jabatan”, bukan berarti kita boleh lalai dari prosedur ๐Ÿ˜‰ syukurnya, pengurus regional memberikan sedikit kemudahan bagi para pengurus teledor ini untuk ikut lagi di orientasi komunitas berikutnya.

Saat membaca pertanyaan “deskripsikan dirimu sebagai benda khas kampung” di lembar main, 2 benda ini langsung terlintas di pikiran saya. Mohon maaf, nggak bisa milih salah satu, haha…

Kenapa papan tulis? Karena saya senang sekali kalau bisa memfasilitasi proses transfer ilmu antar anggota. Sementara panggung, karena saya senang apabila ada anggota yang berhasil memaksimalkan potensi dirinya dan bersinar di atas panggung.

Saya jadi ingat jargon iklan suatu minuman energi, “Saat kau mengalahkanku, saat itulah aku menang.” Jargon itu memang pas sekali dengan saya. Apalagi saat ini saya sudah sadar, bahwa salah satu sumber energi terbesar saya adalah dengan mengajarkan ilmu. Jalan yang saya tempuh sebagai pengurus RBM insya Allah sudah benar, dan semoga Allah memudahkan seluruh pengurus RBM untuk melayani para anggotanya hingga akhir kepengurusan.

Apa yang ingin saya lakukan di RBM dalam jangka waktu 6 bulan lagi?

Sesungguhnya saya kepikiran ingin membuat “RBM Solo Book Bootcamp”. Tujuannya untuk membimbing para anggota yang masih belum pede atau bingung untuk membuat buku solo, sehingga dalam jangka waktu 1-2 bulan, para anggota sudah punya naskah yang siap untuk diajukan ke penerbit. Inginnya sih, 3 naskah terbaik diterbitkan oleh RBM & dipasarkan oleh KIPMA. Mudah-mudahan bisa (dan disetujui oleh pengurus lain), karena membuat antologi itu terlalu mainstream hehehe…

Lembar main kali ini semakin mengukuhkan saya, bahwa jalur yang saya tempuh di RBM sebagai “pelayan” sudah benar.

Semoga Allah mudahkan ๐Ÿ™‚

Daging Apakah Ini?

Siang itu, si Mamah memasak rawon. Saya pun bersiap untuk menghidangkannya untuk anak-anak. Biasanya, supaya lebih mudah dimakan, saya potonglah dagingnya kecil-kecil. Eh, tapi, kok … ada yang warnanya putih, ya? Biasanya kan daging rawon warnanya hitam gelap. Saya pun bingung, apa jangan-jangan Mamah campur dagingnya dengan daging ayam? Saya coba gigit si daging putih, teksturnya lepas-lepas. Mirip daging ayam. Tapi siapa sih yang masak rawon pakai daging ayam? Daripada pusing, saya tanya langsunglah ke Mamah. Dan jawabannya adalah …

“Nggak tuh, nggak pakai ayam.”

Lah! Daging apaan dong itu? Saya yang curiga pun langsung foto daging itu dan mengirimnya ke grup “Cook and Bake” yang saya ikuti. Beberapa teman saya langsung menduga itu adalah daging babi. Saya yang beberapa kali melihat foto makanan dengan menu babi pun jadi curiga. Kata teman saya yang suaminya mualaf, daging babi memang teksturnya mirip ayam, tapi halus. Daging yang ada di rawon ini tidak sehalus daging babi yang pernah saya lihat di foto. Hmm, mengherankan. Setelah saya gali info lagi ke Mamah, ternyata di pasar, si tukang daging sempat menambahkan sepotong daging berwarna merah muda ke dalam daging yang sudah dipesan oleh mama. Bonus, katanya.

daging misterius berwarna putih

Akhirnya saya pun bergerilya di internet mencari info perbedaan daging sapi dan babi. Sebenarnya beda kedua daging tersebut cukup jelas saat mentahnya. Daging babi warnanya lebih pucat dari daging sapi, seratnya juga lebih rapat-rapat dan halus. Posisi lemaknya sangat khas, tidak seperti sapi yang lemaknya bisa “nyelip” di serat daging. Tapi, daging putih yang saya temui itu tidak seperti itu. Lalu ketemulah saya dengan keyword baru: daging celeng. Ternyata, ciri-ciri daging putih misterius itu mirip sekali dengan daging celeng! Seperti apa, sih, bedanya? Coba tonton video ini:

Nah lo, mirip banget, kan, sama daging sapi? Setelah nonton video ini (apa lagi melihat versi daging gorengnya) makin yakinlah saya kalau yang nyemplung di rawon itu bukan daging sapi. Akhirnya rawon sepanci pun menjadi rejeki kucing-kucing di jalanan (dosa nggak ya ngasih kucing makan celeng?). Dan siang itu pun berakhir dengan saya memesan delivery, dan baru makan siang jam setengah dua… Hahaha. Gara-gara tukang daging, jadi rugi waktu buat riset daging celeng dan kelaparan berjam-jam. Untung anak-anak dan suami masih bisa makan ayam goreng tepung. Tukang daging itupun diblacklist dari daftar vendor bahan makanan kami.

Apakah semua daging warna pink itu berarti daging babi?

Nggak juga! Ternyata, daging sapi pun ada yang berawarna merah muda. Teman saya mengirimkan daging kurbannya kemarin, ada daging warna merah tua dan merah muda yang letaknya berdempetan (sayang fotonya sudah kehapus dari HP). Nah, untuk memastikan kalau daging itu adalah daging sapi, kita bisa memperhatikan tekstur dan posisi lemaknya, seperti yang sudah ditunjukkan di video tadi.

Gimana caranya memilih toko daging yang aman?

Kalau baca di berita, sih, pilihlah toko daging yang masih menggantung potongan daging sapinya (yang ada gelondongan kaki digantung). Lebih aman memilih daging yang dipotong langsung dari kakinya. Bertemu dengan penjual yang amanah dan paham bedanya daging sapi dan celeng juga untung-untungan, jadi jangan lupa berdoa sebelum pergi ke pasar. Kalau di supermarket, insya Allah lebih aman, tapi tentu saja harganya jauh lebih mahal daripada belanja di pasar.

Nah, teman-teman yang suka belanja di pasar, hati-hati, ya!

image credit: flickr.com | Irina Shomova

The Best Version of Myself.

Ditulis sebagai aliran rasa Babak 1 Orientasi Kampung Komunitas Ibu Profesional.

Usia menjelang 40 tahun, adalah usia di mana manusia mulai merasa gelisah akan tujuan ia diciptakan. Sembilan tahun lagi bagi saya, tapi sembilan tahun akan melesat tanpa terasa.

Kenapa saya dilahirkan? Untuk apa saya diciptakan di dunia ini? Apa yang bisa saya berikan di dunia ini? Apakah saya hanya akan jadi manusia penghabis sumber daya, lalu kelak saat ajal menjemput, kenangan akan saya akan binasa bersama raga?

Sampai awal tahun ini, optimisme saya berada pada titik terendah seumur hidup saya, sampai-sampai saya tidak mengenali diri saya sendiri. Masa, sih, saya orangnya seperti itu? Saat itu, emosi saya tidak stabil dan mudah merasa insecure, apalagi kalau dipancing dengan perilaku negatif orang lain ke saya (hehehe …). Jadi kalau habis digas orang, saya biasanya akan langsung sedih, ngerasa kecewa kenapa orang itu nggak suka dengan saya atau perbuatan saya, dan merasa kalau saya cuma bikin salah aja, kenapa sih repot-repot saya ada di dunia ini?

Crazy, right. That doesn’t sound like me at all.

Padahal saya zaman kuliah sama sekali tidak seperti itu. Saya selalu bersemangat, gesit mengerjakan berbagai hal, kurang tidur nggak masalah. Kalaupun diajak ‘gelut’ sama orang lain, alih-alih merasa down, saya biasanya melawan balik. Saya pantang diinjak-injak. That time, I feel good about myself.

Kenapa dulu bisa, dan sampai awal tahun ini tiba-tiba tidak? Apa yang hilang?

Lembar main 1 dari Orientasi Kampung Komunitas Ibu Profesional seolah menyadarkan saya akan diri saya yang sebenarnya. Siapa saya? Apa yang saya sukai? Apa yang saya suka, tapi tidak bisa? Apa yang saya suka dan saya bisa? Apa kualitas terbaik dari diri saya?

Entah kenapa, saya dulu berkubang dengan rasa rendah diri. Padahal setelah saya isi lembar main ini … Hey, I am not that bad.

Kalau dilihat-lihat, saya ini cukup keren, kok. Banyak sekali hal yang bisa diapresiasi dari diri saya. Ini bukan narsis atau sok keren, ya, tapi sebuah usaha untuk mencintai diri sendiri. Karena jika kita tidak cinta diri sendiri, bagaimana kita bisa mencintai orang lain? Bagaimana bisa kita mencurahkan cinta kepada keluarga kita saat tangki cinta kita kosong?

Seorang teman saya pernah mengingatkan saya saat saya sedang terpuruk: Allah tidak mungkin menciptakan kamu kalau kamu itu tidak baik.

Dan rangkaian orientasi tugas ini juga mengingatkan saya akan sumber energi saya yang sudah lama tidak saya aktifkan – passion ๐Ÿ™‚

Sudah lama saya tahu, passion saya adalah menulis, desain, dan mengajar. Manajemen waktu yang buruk (dan aneka faktor lainnya) membuat saya tanpa sadar meninggalkan hal-hal yang saya sukai. Padahal, 3 hal ini sangat penting untuk membuat saya tetap semangat dan bertenaga. Tanpa melakukan ketiga hal ini, saya benar-benar letargik.

Maka dari itu, saya tetapkan tahun 2020-2021 sebagai waktu penempaan diri saya untuk passion menulis saya. Anak-anak sudah lebih besar, dan saya sudah bisa lebih membagi waktu saya. Semoga Allah mudahkan passion saya untuk menjadi sesuatu yang bermanfaat ๐Ÿ™‚

Insya Allah, dengan menemukan passion diri dan memanfaatkannya untuk kebaikan, saya akan siap menyambut usia 40 tahun dengan gemilang. Untuk selanjutnya meninggalkan jejak-jejak yang baik dan bermanfaat di dunia ini, agar menjadi amal jariyah saya saat kelak saya dijemput sang maut.

Today, I feel good about myself and I am sure that I can be the best version of myself ๐Ÿ™‚

Bismillah.

#AliranRasa1
#BabakMain1Orientasi
#kampungmainkomunitas
#KomunitasIbuProfesional

Menihilkan Kecemasan

Begitu zona nyaman kita dihantam, betapa cepatnya kita diliputi kecemasan. Bagaimana seandainya kita atau keluarga kita terkena virus ini? Bagaimana jika tiba-tiba kantor suami terdampak dan harus mem-PHK karyawannya? Bagaimana jika kita tiba-tiba jatuh miskin?

Jangan Diam dan Menunggu

Mata saya menyusuri linimasa Instagram, melirik tempat-tempat rekrasi yang biasanya ramai pengunjung, kini terpaksa tutup akibat PSBB. Pusat perbelanjaan pun menjadi sepi. Teman-teman di grup WA berulang mengirimkan foto pegawai pujasera terkenal yang kini harus berjualan di pinggir jalan. Sungguh bukan situasi yang mudah untuk pengusaha. Benar kalau dibilang salah satu cara menggerakkan ekonomi saat ini adalah dengan jajan. Diam-diam saya merasa salut kepada admin-admin akun tempat rekreasi yang masih rajin posting promosi dengan optimis. Secara tidak langsung, saya jadi ikutan semangat melihatnya.

Setelah Tujuh Bulan

Tujuh bulan itu dua puluh delapan minggu. Artinya, sudah hampir dua ratus hari saya mendekam di rumah tanpa pergi rekreasi.

Sejak awal pandemi, bahkan sepekan sebelum PSBB diterapkan, saya dan keluarga sudah memutuskan untuk mengisolasi diri di rumah saja. Berita penuhnya rumah sakit dan ricuhnya suasana di sana – apalagi seorang sahabat saya adalah residen pulmonologi di RSUP – membuat saya semakin takut dan urung keluar rumah. Cukuplah penjabaran rinci dari sahabat saya itu mengenai kondisi pasien di sana menjadi rem saya dalam beraktifitas. Belum lagi ibu saya yang dokter yang masih selalu mendapat kabar terkini tentang penyakit tersebut dari teman-temannya. Berita kematian semakin biasa terdengar, terutama untuk kalangan penderita komorbid. Saya pun semakin takut.

Saya mengkategorikan diri saya sebagai komorbid karena sudah pernah TBC 2 kali, dan menderita asma. Kenapa berbahaya, karena paru-paru “alumni” TBC memiliki bekas-bekas luka yang menjadi tempat bersarang paling mantap untuk bersarangnya para penyakit. Pernah lihat hasil rontgen paru pasien covid yang putih semua? Saya pernah menderita efusi pleura, saat itu sepertiga paru-paru kanan saya warnanya putih. Itu saja rasanya sesak sampai-sampai saya kira saya “selesai” di situ (alhamdulillah masih diberi hidup sampai sekarang). Berbekal pengalaman itu, benar-benar tidak terbayang kalau saya sampai tertular Covid. Jangan sampai.

Selain saya, anak sulung saya juga menderita asma, dan menghabiskan masa kecilnya dirawat di RS karena pneumonia setahun tiga kali. Begitu berita pandemi ini menyebar, saya langsung menyetop sekolahnya dan menghentikan persiapan kegiatan perpisahan sekolah. Anak sulung saya sama resikonya dengan saya.

Tujuh bulan berselang, penanganan Covid di Indonesia masih begitu-begitu saja. Tidak bisa sampai nol kasus per hari, tapi mau bagaimana lagi? Keputusan untuk mengizinkan mudik atau pulang kampung sudah menggelontorkan ribuan warga Jakarta ke seluruh pelosok Indonesia, menyebarkan virus lebih jauh lagi. Untungnya pemerintah DKI menyelenggarakan tes usap dalam jumlah yang memadai, sehingga mereka mampu menyediakan data yang valid untuk kita baca dan analisa.

Tujuh bulan berlalu, dan yang terjadi begitulah: semua sepi, kantor sepi, banyak orang kena PHK, usaha-usaha semakin sepi. Bagi mereka yang tidak bisa kerja di rumah, pilihannya hanya dua: tertular Covid, atau mati kelaparan.

Beberapa waktu yang lalu, akhirnya saya diizinkan ke luar rumah untuk membeli beberapa barang. Saya yang berbulan-bulan hidup dari berita di koran dan televisi, atau update dari twitter dan instagram pun melihat kenyataan. Semua orang berusaha bertahan hidup, bahkan gerai makanan terkenal saja sampai jualan di pinggir jalan. Sedih melihat tempat-tempat yang biasa saya kunjungi menjadi semakin sepi. Entah bagaimana caranya tercapai keseimbangan penanganan pandemi ini dari segi ekonomi dan kesehatan.

Kemudian saya menemukan analisis ini. Tabel resiko ini sangat membantu saya untuk menentukan aman/tidaknya saya bepergian ke suatu tempat. Tabel ini juga sejalan dengan protokol VDJ (Ventilasi, Durasi, Jarak) yang digaungkan oleh @pandemictalks.

matriks resiko pandemi yang saya screenshot dari twitter ๐Ÿ™‚

Jadi, melihat dari matriks ini, saya pun memutuskan kegiatan yang aman dilakukan keluarga kami:

  • Berjalan-jalan di ruang terbuka
  • Berbelanja di pusat perbelanjaan
  • Membeli makanan take away
  • Shalat di masjid (khusus suami, karena protokol masjid rumah kami cukup ketat)

Dengan catatan, harus dilakukan saat sepi (suami menyarankan pergi di hari kerja) dan tidak lebih dari 2 jam. Masker harus selalu dipakai, dan wajib mandi setelah bepergian dari luar.

Untuk lokasi dan kegiatan paling beresiko, saya dan suami sepakat: KANTOR!

Mengapa? Karena kegiatan di kantor mengharuskan seseorang berada di ruang tertutup tanpa sirkulasi udara selama 8 jam. Belum lagi jika kita harus berkomunikasi dengan orang-orang lain. Belum lagi tantangan saat makan siang. Suami saya bercerita, saat sempat mengalami WFO beberapa waktu yang lalu, teman-temannya yang tidak membawa bekal makan di kantin kantor yang berdesakan. Waduhโ€ฆ

Mudah-mudahan, teman-teman yang masih harus bekerja dari kantor diberi kemudahan dan keselamatan, ya. Sampai saat ini saya juga belum terpikir strategi apa yang bisa membuat kondisi bekerja di kantor lebih aman.

Setelah tujuh bulan, kami pun memberanikan diri untuk hidup ala new normal. Mau bagaimana lagi? Yang penting resiko selalu diukur, dan kita tidak sembarangan (misalnya, sengaja pergi ke indomaret nggak pakai masker dan batuk-batuk di sana. Kan ngeselin). Mudah-mudahan kalau lihat orang-orang belanja suasana hati yang jualan jadi lebih positif, jadi lebih optimisโ€ฆ

Saya tahu pandemi belum terselesaikan, dan memang tidak akan terselesaikan sampai entah kapan. Sementara hidup harus berjalan. Manusia adalah makhluk yang pandai beradaptasi, berakal pula. Jadi mari kita pakai otak kita untuk hidup berdampingan dengan pandemi ini secara aman.

#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Pandemi