Menembus Dinding

Saat itu aku berusia sepuluh tahun. Sepulang sekolah, kubuka pintu rumahku dan kudapati tak ada siapapun di sana. Ibuku sedang bekerja, dan pembantu rumahku sedang berada di rumah tetangga. Untuk menuju kamarku, dari pintu depan aku hanya perlu berbelok ke kiri, menyusuri koridor kecil yang membatasi kamar ibuku dan dinding rumah sebelah. Namun, belum sempat aku membuka sepatuku, kulihat sesosok pria berjas hitam dan bertopi melayang, menembus dari kamar ibuku, melewati koridor dan menghilang di balik dinding yang berbatasan dengan rumah sebelah.

Kuambil langkah mundur, kututup pintu rumahku dan aku pun berlari sejauh-jauhnya.

#Writober2021 #RBMIPJakarta #Tembus

Makanan Serigala

Jariku mengambang di atas layar ponselku. Mendadak aku bimbang, benarkah keputusan yang akan kubuat ini?

Sepasang sepatu seharga tiga ratus ribu, menambah koleksiku di lemari yang nyaris berdebu. Ada pembenaran, pikirku. Pekan depan, temanku akan menikah dan tak ada sepatu yang serasi dengan baju baruku. Tapi kenapa aku masih meragu?

Tiga ratus ribu saja, bisa kau ambil dari sisa tabunganmu. Begitu kata suara di dalam kepalaku.

Ah, tiga ratus ribu…

Ponselku bergetar, tanda masuknya pesan baru. Layaknya milenial yang takut ketinggalan berita, segera kubuka pesan itu.

Selamat siang, Bunda. Mohon maaf mengganggu, untuk acara santunan besok saat ini kami masih kekurangan santunan untuk 10 orang anak, masing-masing 100,000. Barangkali Bunda bisa menutupi kekurangan untuk satu atau dua orang anak…

Aku menutup pesan itu. Kenapa aku?

Aku mematikan tampilan layarku dan menghela napasku. Suara yang sama kembali menceracau di dalam kepalaku. Seratus ribu dikali sepuluh, banyak sekali? Kenapa mereka selalu meminta kepadaku? Apa mereka tidak tahu kalau orang-orang juga punya kebutuhan…

Jadi, lebih penting menggenapkan selusin sepatumu daripada sepuluh anak panti? Suara lain berkata di di dalam kepalaku.

Ternyata, hati nuraniku pun tak sanggup mengiyakan pertanyaan itu.

Suara-suara di dalam kepalaku makin memburu, kusadari merekalah Sang Serigala Putih dan Serigala Kelabu. Tanpa kupikir panjang, kuambil ponselku. Kukirim sepuluh kali seratus ribu ke panti asuhan itu, dan kulupakan sepatu baruku.

Kali ini, kuputuskan untuk mengabaikan suara Serigala Kelabu dan memberi makan Sang Serigala Putih.

#Writober2021 #RBMIPJakarta #Suara

Di Balik Selimut

Credit: @priscilladupreez http://www.unsplash.com

Aku mengkeret di balik selimut, menjadikannya tameng terakhir dari entah apa yang bersembunyi di sudut gelap kamarku. Tak tahu kini pukul berapa, tapi saat membuka mata, aku tahu ada yang tak biasa.

Aku tahu dia ada.

Sejak kapan dia mengikutiku? Apakah sejak aku kelepasan memaki saat menuruni gunung angker itu? Kenapa masih saja seperti ini? Padahal Si Mbah sudah memberiku selembar rajah yang selalu kusimpan dengan apik di saku celanaku. Pelindung dari makhluk halus, katanya. Supaya tidak kena santet, begitu katanya.

Bulu kudukku meremang, jantungku berdegup semakin cepat. Berapa suhu pendingin ruangan ini? Aku merasa ujung tangan dan kakiku membeku. Tubuhku mulai gemetar. Aku takut dia sadar kalau saat ini aku sudah bangun dari tidurku.

Perlahan, aku merasakan sisi kasurku yang kosong melesak ke dalam – seolah-olah ada yang sedang berjalan di atasnya. Mendekat ke arah punggungku yang tertutupi selimut.

Otak warasku berusaha berbaik sangka? Mungkin kucing?
Jangan bercanda. Aku tidak memelihara hewan apapun di rumah ini.

Kupejamkan mataku, berharap ini hanya mimpi yang terlalu nyata atau halusinasi. Namun realitanya, lesakan di kasur itu semakin dekat, dan aku samar-samar merasakan sesuatu mengelus punggungku. Aku berjengit.

Dan saat itulah aku tahu kalau dia sudah tahu kalau aku tahu.

Terdengar suara kekeh pelan dari balik selimutku. Kini, hanya selimutku yang melindungiku dari kehadirannya yang membuat bulu kudukku meremang.

Eh, tunggu. Aku mengingat sesuatu yang pernah diajarkan saudaraku di waktu kecil. Suatu rapalan yang sering kupelajari di langgar sewaktu kecil, yang melekat erat di kepala, namun entah artinya apa. Yang kutahu, itu semacam mantra anti-setan.

Ya, itu harusnya berhasil kan? Kutelan ludahku, lidahku kelu saat berucap. Kapan terakhir kali aku merapalkannya?

“Allahu laa ilaa ha illa huwal hayyul qayyum…”

“Allahu laa ilaa ha illa huwal hayyul qayyum…” jantungku serasa diremas saat suara yang bukan suaraku merapalkan ayat yang sama. Suara itu nyaris melengking, dan terdengar begitu dekat, dan diucapkan dengan nada mengejek. “Laa ta’khudzuhu sinatuwwa laa naum…”

Kurasakan tubuhku mendadak kaku dan lidahku kelu. Frustasi, lagi-lagi kucoba merapalkan ayat itu, namun mulutku hanya megap-megap seperti ikan yang tersasar di daratan. Pertolongan! Aku perlu pertolongan!

Tetapi suara yang tadi merapalkan ayat itu kini terdengar sangat dekat di telingaku dan berkata, “Kepada siapa sesungguhnya kau meminta pertolongan?”

Dada dan kepalaku rasanya nyaris meledak karena ketakutan, dan yang terakhir kuingat adalah kegelapan yang perlahan jatuh di pelupuk mataku diiringi gema ayat yang tadi gagal kubaca.

#Writober2021 #RBMIPJakarta #Gema

Memilih Sekolah untuk Anak

Bicara pendidikan anak, tentu tidak lepas dari pemilihan sekolah. Kali ini saya akan bercerita tentang perjalanan saya memilih SD untuk anak saya. Alhamdulillah, banyak sekali pilihan sekolah bagus di sekitar rumah kami. Tapi pertanyaannya, bagaimana caranya untuk tahu kalau sekolah itu adalah yang paling cocok untuk kita?

Saat kita memilih sekolah, tentu kita harus menyesuaikan diri dengan berbagai hal. Dalam kasus keluarga saya, kami memilih sekolah dengan kriteria berikut ini:

  1. Jarak yang dekat dari rumah (maksimal 20 menit perjalanan).
  2. Menerapkan prinsip yang sesuai sunnah.
  3. SPP dan biaya masuk masih dalam kategori menengah
  4. Murid-murid yang bersekolah di sana berasal dari keluarga yang baik, tapi dari level ekonomi yang menengah (agar kami mudah menyesuaikan diri).
  5. Jam sekolah yang manusiawi.

Dari poin 1 & 2, terjaringlah 4 nama sekolah. Sebut saja A, B, C, dan D. Sekolah A adalah sekolah sunnah yang terkenal di daerah Rawamangun, tapi lalu kami ketawa gemas saat mengetahui biaya pendaftarannya sebesar 50 juta rupiah saja. Program sekolah terlihat meyakinkan, dan sejujurnya kami sangat buy in dengan sekolah ini, mengingat salah satu gurunya sering mengisi kajian untuk anak yang diadakan di masjid komplek kami.

Sekolah B adalah SD islam yang berada di dekat rumah kita. Programnya sangat oke dan meyakinkan, namun sayangnya gedungnya terlihat kurang representatif. Fasilitas laboratorium dan perpustakaannya pun nyempil di belakang, aneh banget. Secara fisik, dia kalah dengan gedung SD Negeri yang ada di seberangnya. Yang membuat saya kurang sreg adalah mereka sekolah dari pukul 7 sampai 3 sore setiap hari. Biaya pendaftaran di angka 23 juta, dan SPP 1,1 juta per bulan.

Sekolah C adalah SD islam yang juga berada di dekat rumah. Jam sekolahnya sangat manusiawi (pukul 7-13 saja!), dan biayanya juga terjangkau. Biaya pendaftaran 15 juta, dan SPP 500 ribu per bulan. Gedungnya juga sangat representatif dan rapi. Lokasinya berada di dalam komplek perumahan, tapi sayang pagar sekolahnya terbuka banget. Saya aja bisa keluar masuk dan mondar mandir tanpa ada orang yang bertanya. Ditambah lagi di depan sekolah banyak jajanan yang kurang bersih, jadi saya agak kurang seg dengan sekolah ini. Sekolah ini sangat akademis, sehingga idealnya anak sudah berusia 7 tahun jika mau masuk ke sana. Bagian ini juga yang membuat saya ragu, karena saat itu anak saya masih berusia 6 tahun.

Sekolah D adalah sekolah di dekat rumah kami juga, dan memiliki moto “mendidik dengan kasih sayang”. Tidak ada tes, tapi yang mau daftar sudah antri dari subuh demi bisa dapat kuota. Sekolah ini serba menengah: gedungnya lumayan bagus, fasilitas oke, biayanya juga masih terjangkau. Biaya masuk di angka 18 juta dan SPP 900 ribu per bulan. Yang saya suka, nggak ada kantinnya, yang ada hanya semacam warung kecil yang menjual snack dan minuman saja.

Pada akhirnya keluarga kami memilih sekolah D. Selain pertimbangan biaya dan faktor lainnya, ada hal yang membuat saya yakin kalau sekolah ini adalah sekolah yang cocok untuk anak saya. Saat itu saya survey sekolah dan diantar gurunya keliling. Ternyata waktunya bertepatan dengan jam istirahat anak-anak. Saya melihat anak-anak itu akur banget bermain bersama, dan mereka menggelar tikar dan makan bekal bersama di depan kelas (menggemaskan banget haha). Begitu seorang anak melihat gurunya datang, ia pun langsung cium tangan (dan cium tangan saya juga), diikuti teman-temannya. Duh, hati langsung meleleh rasanya. Sepanjang saya survey, saya bisa mendengar kalau anak-anaknya bicara dengan santun. Saya bisa membayangkan anak saya bisa berteman dengan baik dengan murid-murid di sekolah ini.

Dan benar, saat anak saya sekolah di sini, walaupun online, anak saya merasa cocok dengan guru dan teman-temannya. Alhamdulillah. Semoga pilihan sekolah ini membawa kebaikan bagi pendidikan anak saya, aamiin.

Dunia Kita

Dunia kita adalah kita dan waktu-waktu yang kita habiskan bersama. Waktu-waktu yang kita habiskan dalam perjalanan dari rumah ke sekolah, sejak kita pergi dengan sepeda kecil yang kudorong (dan kau pura-pura mengayuhnya karena usiamu masih 2,5 tahun), hingga kau cukup besar dan aku harus mengantar-jemputmu dengan mobil.

Dunia kita adalah waktu yang kita habiskan bersama selepas jam sekolahmu, saat kita tidak langsung pulang ke rumah karena ingin makan soto ayam, atau belanja sejenak di supermarket sambil membeli takoyaki kesukaanmu. Kebiasaan itu lalu bergeser setelah hadirnya adikmu yang ikut menjemputmu sepulang sekolah, lalu aku akan memutar setirku ke arah restoran cepat saji dan membeli ice cone untuk kita bertiga, lalu kita tertawa sepanjang perjalanan ke rumah.

Dunia kita adalah waktu yang kita habiskan di arena bermain anak-anak di mall dan sueprmarket, sejak kau masih belum bisa memanjat dengan benar hingga adikmu hadir dan ikut menemanimu bermain (dan sering menghilang di dalam lautan bola-bola hingga aku kebingungan mencarinya). Dunia kita adalah tawa kita yang bermain lompat trampolin saat aku hamil adikmu 8 bulan, mungkin itu sebabnya kalian begitu akrab sekarang – bahkan sejak di dalam kandunganku, ia sudah bermain bersamamu.

Dunia kita adalah perjalanan mencari ayam goreng tepung, gula kapas raksasa berbentuk boneka, es krim, dan minuman thai tea yang begitu kau suka (aku juga). Dunia kita adalah perjalanan berkeliling toko mainan untuk sekedar mencoba tanpa benar-benar membeli, atau sedikit membeli sekedar agar kita bisa menikmati fasilitas main gratis yang ada di toko.

Dunia kita adalah keceriaan kita saat bermain di Fanpekka, sayangnya aku belum sempat memenuhi janjiku pada kalian karena tempatnya keburu tutup karena pandemi.

Dunia kita adalah kalian yang berpura-pura menjadi pesawat di kakiku, atau aku yang berpura-pura menjadi kuda, supir ojek, We Bare Bear, atau apapun tergantung imajinasi kalian berdua, dan kita akan bertumpuk di atas kasur dan tertawa bersama.

Dunia kita adalah aku yang berusaha membeli rangkaian memori indah yang kuharap bisa melekat di hati kalian hingga kalian tua nanti, memori yang kelak kuharap terkonversi menjadi doa anak-anak sholeh kepada orang tuanya yang sudah tiada.

I love you, S & A.

Wrong Imagery

Aku benci anak-anak.

Dulu, sih. Waktu aku belum menikah. Kenapa?

Ya ampun, siapa sih yang nggak stress lihat kelakuan makhluk-makhluk kecil yang gedubrakan ke sana ke mari, bikin semua barang berantakan, bikin yang lihat senewen, dan semua itu dimaklumi dengan kalimat, “Namanya juga anak-anak.” Hah! Belum lagi image orang tua yang saya tahu saban hari kerjanya ngeluhin anak mereka terus. Ya nakal lah, ya apalah. Sekalinya pas ketemu anaknya, kalau nggak disuruh-suruh, diomelin. Ribet banget, ya?

Makanya, saya paling anti berurusan sama anak-anak. Saya nggak ngerti gimana cara ngobrol sama mereka, dan saya orangnya galak. Yang ada nanti mereka malah nangis, lagi, ngobrol sama saya.

Tapi semuanya berubah setelah saya menikah dan hamil anak pertama. Berkaca pada kekacauan pengasuhan diri saya di masa lalu, saya bertekad ingin menjadi ibu keren yang mengasuh anaknya dengan baik. Waktu hamil, saya menjenguk teman saya yang baru melahirkan. Waktu saya disuruh gendong anaknya, saya nggak tahu harus bagaimana. Sampai-sampai ibunya ketawa-ketawa lihat cara saya gendong bayi yang kakunya minta ampun :))

Dan kemudian, si sulung lahir. Bukan perjalanan mudah karena saya sempat baby blues (kayaknya), stres tapi nggak ngaku karena takut dikira gila. Sampai ada yang pernah bilang saya kayak nggak tertarik sama anak saya sendiri. Iya, emang sulit tertarik sama makhluk kecil yang demanding sama kita dan bikin kita nggak bisa tidur pulas dan laper saban hari :)) Tapi istilah orang jawa, “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino”. Lama-lama jadi sayang, apalagi setelah anaknya mulai bisa bicara dan berinteraksi dengan kita…

Alih-alih saya yang memberi cinta tak terbatas kepada dia, dia yang memberikan itu ke saya. Aneh.

Bisa dibilang, hidup saya tidak dipenuhi dengan cinta dalam bentuk yang normal dan ideal, sehingga saya tidak punya preferensi untuk mencintai orang seperti ibu pada umumnya. Tapi anak itu begitu tulus mencintai ibunya, dia yang memenuhi bejana jiwa saya yang kosong dan mengisinya dengan cinta. Bejana yang akhirnya penuh dan isinya kembali saya tuangkan pada dirinya. Kok bisa ya Allah baik sekali memberi saya anak sulung dengan karakter ceria yang penuh cinta kayak gitu, mau bete selalu jadi nggak jadi. Bahkan di usianya yang 4 tahun, dia selalu bertanya, “Apa ibu sudah senang?”

Setelah adiknya lahir dan mereka semakin bertambah besar, saya menyadari, punya anak itu tidak se-ribet itu. Iya, harus sabar, harus banyak doa, harus ada uangnya, bla bla bla. Tapi ternyata tidak semenakutkan itu. Dulu sepertinya saya selalu ditakut-takuti – baik oleh imaji orang tua yang stres dengan perilaku anaknya, maupun kata-kata “pakar parenting” yang selalu berkata “kalau kita bla bla bla hati-hati anaknya jadi bli-bli-bli”. Capek. Pada satu fase kehidupan saya dengan anak-anak, luka masa lalu saya terbuka begitu besar, tapi di saat bersamaan mereka juga yang menyembuhkan. Sesungguhnya saya akan bingung apa jadinya kalau mereka nggak ada. Pastinya saya nggak akan menjadi diri saya yang sekarang ini.

Pada titik ini, rasanya heran juga dengan diri saya yang dulu begitu membenci anak-anak 🙂

Kompos yang Penuh Berkah

Tidak pernah terpikir bahwa memilah sampah dan mengolah sampah dapur itu ternyata berdampak luar biasa.

Perjalanan saya memilah dan mengolah sampah dapur bermula dari keterlibatan saya di pembuatan buku anak berjudul “Aksi 5 Sahabat: Ramadhan untuk Bumi”. Buku ini mengangkat tema Ramadhan ramah lingkungan, berisi aneka aktivitas, fakta, dan cerita mini dengan tema lingkungan. Pada salah satu cerita mini, dikisahkan Andra dan Bimo (nama salah dua karakternya) sedang mudik, lalu mereka membantu kakeknya untuk mengubur sampah organik di lubang jugangan. Sebagai penanggungjawab buku ini, saya pun terpaksa kepo dengan lubang jugangan, dan perjalanan kepo saya ternyata menghasilkan pengetahuan tentang aneka cara mengkompos 😀

Mbak Efi Femiliyah, praktisi zero waste yang menjadi konsultan buku ini berkata (kira-kira begini), “Jangan cuma ditulis saja, tapi coba diamalkan. Supaya tulisan kalian itu juga ada ruhnya.” Jujur saja, saat membuat buku itu, pengamalan zero waste saya paling mentok menolak kantong plastik. Setelah pembuatan buku itu, saya pun bertekad untuk mulai mengolah sampah dapur menjadi kompos. Kebetulan WAG PKK saya mengadakan kulwap tentang pembuatan kompos bersama DK Wardhani (keren, kan! Saya sampai starstruck saat itu, haha), dan ternyata… gampang banget, ya?

Intinya, sediakan wadah yang bawahnya berlubang, buat starter kompos yang terdiri dari tanah, daun kering, dan sampah buah yang disiram dengan air beras, lalu didiamkan 2 hari. Setelah itu, sampah dapur (sayur buah saja, ya, tulang dan daging nggak boleh ikutan) boleh dimasukkan ke sana. Setiap selesai memasukkan sampah dapur, kita wajib menguburnya lagi dengan tanah. Pokoknya, rasio sampah dapur dan unsur cokelat (tanah atau daun kering) harus 1:3 supaya kompos kita nggak becek dan bau.

Selama proses mengkompos ini, saya jadi memperhatikan banyak hal. Ternyata sampah dapur yang nggak kita konsumsi itu menjadi rezeki bagi semut, belatung, siput, dan cacing. Dengan memisahkan sampah organik dan anorganik, sesungguhnya kita sedang berbagi rezeki ke makhluk Allah lainnya. Dan mereka pun membalas budi kita dengan menjadikan sampah tersebut kompos yang bermanfaat bagi tumbuhan. Setelah sebulan, kompos saya jadi, diandai dengan tanah yang bertekstur crunchy, tidak basah, dan wangi. Berkat kompos perdana ini, saya dihadiahi pohon terong dan tomat dari ibu-ibu PKK, hehe…

Mama saya pun menggunakan kompos buatan rumah ini untuk memupuki tanaman-tanamannya. Hasilnya memuaskan, tanaman langsung berbunga dan subur. Bayangkan kalau kita tidak mengolah sampah dapur itu. Mereka akan terbawa sampai TPA Bantar Gebang, menumpuk (pernah lihat bentuk TPA Bantar Gebang seperti apa?), membusuk dan mengeluarkan air lindi dan gas metana. Air lindi itu akan terserap ke tanah dan mencemari air tanah di sekitaranya, sementara gas metana yang terkumpul bisa menimbulkan ledakan di TPA, seperti yang terjadi di TPA Leuwigajah pada tahun 2005.

Ah, sebenarnya sudah jelas kan bahwa tujuan penciptaan manusia itu adalah untuk menjadi khalifah di bumi. Dengan memilah sampah dan mengolahnya, manusia telah membantu sampah itu kembali ke fitrahnya: dimakan oleh makhluk ciptaan Allah yang tinggal di tanah, dan kembali menjadi tanah untuk kelak memberi manfaat bagi manusia. Belajar mengkompos adalah keputusan yang tidak pernah saya sesali.

Review Webtoon: Girl’s World

Masa SMA, masa di mana keberadaan teman adalah hal yang paling penting bagi kita. Bagaimana cara menjadi teman yang baik? Apa yang boleh dan tidak? Apa yang orang lain suka dan tidak? Dari webtoon “Girl’s World”, saya belajar dari Oh Nari cara menjadi teman yang baik.

Webtoon ini bercerita tentang Oh Nari dan 3 orang sahabat perempuannya. Im Yoona si cantik dari keluarga kaya, Seo Mirae si gadis blasteran Jerman, dan Im Sunji yang cantik (tapi rada oon :p). Awalnya Nari merasa seperti bebek yang berada di tengah para angsa. Seiring berjalannya cerita, ternyata teman-teman “cantik sempurna”-nya Nari juga memiliki luka masing-masing, dan mereka perlahan sembuh karena persahabatan tulus mereka dengan Nari. Yup, Nari mungkin “biasa saja” kalau dibandingkan dengan teman-temannya, tapi semakin lama kita ikuti ceritanya, kita bisa merasakan inner beauty Nari itu nggak main-main 🙂

Why I Like This Webtoon?

Ceritanya terasa nyata dan relatable. Rasanya seperti kembali lagi ke bangku SMA dan mengenang perasaan yang ada di dalamnya: mencari “geng” yang tepat, bahagia saat diterima oleh teman, dirundung dan difitnah orang lain, bertengkar lalu berbaikan lagi dengan sahabat kita.

Banyak bentuk pertemanan yang dibahas di cerita ini. Mulai dari punya geng yang seru, persahabatan minim dialog ala Mirae & Yoona, hingga yang toxic seperti Yeseul dan Sunji.

Nari yang masih insecure di antara para sahabatnya :))
Walau terlihat sempurna dari luar, para sahabat Nari punya masalahnya masing-masing
Nari, being there at Yoona’s lowest point in their elementary school
Bonding minim dialog ala Mirae dan Yoona
Sunji, letting her toxic friend go

Banyak hal yang bisa kita pelajari dari sini: cara menjadi teman yang baik, membedakan teman yang toxic dan yang tulus, dan pada satu titik, terkadang kita harus move on dan tidak berteman lagi dengan seseorang.

Nari yang belum paham kelebihan dirinya 🙂
Gotta love yourself first!

Tapi yang paling saya suka, webtoon ini mengajarkan kita untuk lepas dari insecurity kita terhadap kekurangan kita, juga mengajarkan kita untuk mencintai diri kita sendiri 🙂

This webtoon helped me build my confidence through my toughest time dealing with myself. I would recommend you to read it 🙂

5 out of 5 stars.

Bonus: bagian yang bikin nangis, surat dari Yoona ke Nari yang terlambat sampai 3 tahun.

#TantanganMaGaTa #Review

Focus, Get Things Done

So little time, so much to do. Potongan lirik lagu lawas ini memang relevan banget untuk kita. Seringkali kita merasa kepala kita ruwet banget isinya, pusing, mana yang harus dikerjakan lebih dulu? Terus seringkali waktu yang bisa kita pakai untuk mengerjakan to-do list kita ternyata malah kelamaan dipakai overthinking :p Saya pun sering begitu. Nah, tahun ini, saya berusaha untuk lebih fokus untuk mengerjakan hal yang penting bagi saya. Tapi sebelum fokus untuk mengerjakan yang penting, penting untuk memahami apa yang penting 🙂

First Thing First

Memutuskan yang penting. Sumber: https://www.developgoodhabits.com/wp-content/uploads/2017/05/How-to-Make-Decisions-on-What%E2%80%99s-Urgent-and-Important-min.jpg

Saya sering menggunakan matriks ini untuk memilih prioritas. Aplikasinya untuk saya, kira-kira seperti ini:

  1. Urgent & Important : Do – berlaku untuk PJJ dan semua urusan anak, karena amanah suami, ini adalah yang nomer satu. Dan tentu saja urusan ibadah seperti shalat dan tilawah.
  2. Not Urgent & Important : Plan – kalau ini berlaku untuk proyek dan ekskul yang saya ikuti. Misal proyek menulis, desain, dan kepengurusan organisasi. Sekarang memasak naik pangkat dari “delegate” ke “plan” hehe.
  3. Urgent & Not Important : Delegate – yang ini tentu saja semua urusan rumah tangga semacam cuci sapu jemur setrika hehehe. Alhamdulillah diberi rezeki cukup untuk membayar seorang ART.
  4. Not Urgent & Not Important : Eliminate – ngobrol ngalor ngidul nggak penting di WAG, sekrol-sekrol medsos tiada juntrung.. Yah tau sendiri lah, ya :p

Setelah memetakan prioritas kita dengan matriks ini, kita lanjut ke cara eksekusinya, yaitu…

Time Management

Sama-sama punya 24 jam sehari, kenapa shalafush salih zaman dulu bisa bikin ratusan buku, sementara saya udah sebulan naskah masih mentok di BAB 5? Memang ini salah satu cobaan umat zaman now, sih… Oleh karena itu, yuk kita coba merencanakan penggunaan waktu kita dengan sebaik-baiknya. Caranya yaitu:

1 – Make time for important things

Prioritas tertinggi, dikerjakan pertama kali. Biasanya pagi-pagi, setelah subuh, saya berusaha menyempatkan diri untuk zikir pagi, tilawah, sholat duha, dan mengerjakan ujian harian HSI. Kalau sudah mengerjakan 4 itu, plong banget deh rasanya di sisa hari, kayak nggak ada beban. Setelah itu biasanya saya menulis to-do list saya untuk hari ini. Selepas jam 6, mulai deh hari yang gedubrakan karena harus menyiapkan anak sekolah, hehe.

2 – Rencanakan kegiatan kita di antara waktu sholat

Perencanaan seperti ini memudahkan kita untuk sholat di awal waktu. Selain itu, kita juga jadi fokus dengan apa yang kita lakukan karena kita tahu, alokasi waktunya ya memang untuk itu. Misalnya, pagi setelah subuh dan rutinitas pagi saya, saya dedikasikan untuk mengajar anak-anak (baik yang homeschooling maupun PJJ). Tiga puluh menit sebelum adzan zuhur, saya langsung cus ke dapur untuk membuat makan siang. Setelah makan siang, kami pun shalat zuhur.

Nah, selama potongan waktu antara subuh-zuhur itu, saya dilarang kepikiran apapun soal kerjaan atau yang lain-lain. Fokus! Karena waktu ini saya harus hands-on mengurus anak-anak. Prinsipnya, pantang ngerjain urusan sekolah selepas azan zuhur karena itu waktunya bermain bebas 😛

Selepas zuhur, baru deh waktu bebas anak-anak dan saya. Saya sudah beberapa kali ditegur oleh suami untuk sangat berhati-hati dalam bergawai di depan anak-anak. Makanya jam online yang saya tetapkan adalah di rentang waktu ini. Selepas ashar adalah waktunya menambah hafalan surat pendeknya si Kakak dan kegiatan fisik/outdoor. Selepas maghrib waktunya makan malam, dan selepas isya adalah waktunya main-main santai, baca buku, atau review pelajaran (kalo aku lagi rajin, lagi diusahakan haha).

3 – Membuat rencana harian dan pekanan

Kembali lagi ke matriks prioritas yang saya jelaskan di awal, biasanya kegiatan harian isinya adalah yang ada di kuadran 1 (penting – mendesak). Sementara kuadran 2 (penting – tidak mendesak) itu bisa disebar sepanjang minggu, tergantung pengaturan kita aja. Misalnya hari Senin adalah waktunya menulis artikel, Selasa ngurus klien, dan lain-lain. Fleksibel aja. Tapi waktu pengerjaannya tiap hari sama, cuma bisa antara zuhur-ashar atau di atas jam 10 malam sekalian. Dari pembagian ini jadi kelihatan, berapa waktu luang yang kita punya, dan apakah kegiatan ‘ekskul’ kita bisa dikerjakan dengan waktu yang tersedia. Jangan sampai kegiatan ekskul kita malah menzolimi alokasi waktu kita untuk hal-hal yang lebih penting.

4 – Mengawali hari dengan tilawah

Kalau nggak salah, memang ada dalil yang mengatakan tentang keutamaan memulai hari dengan membaca Al-Qur’an. Tapi belum sempet nyari uy. Intinya, selain sarapan untuk fisik, kita juga harus sarapan jiwa, dan Al Qur’an lah kuncinya. Selain itu, entah kenapa, kalau saya skip baca Qur’an di pagi hari, rasanya kayak “dikejar-kejar” sesuatu. Tapi kalau sudah baca, rasanya plong banget menjalani sisa hari.

Removing All Distractions

Ngaku deh, yang paling bikin hilang fokus adalah WAG yang trang tring trung, obrolan gak jelas yang kalo ditanggapin eh tau-tau sejam aja dibahas. Saya sedang berusaha membatasi jam online. Jadi, di status WA Saya tulis jam online saya adalah jam sekian. Saya pun nggak ngerasa bersalah kalo nggak fast response. Karena saya juga punya kerjaan di dunia nyata dan Saya bukanlah admin olshop 😀

Lagipula, zaman SD dulu kita cuma punya telepon rumah, dan orang-orang menelepon ke rumah memang cuma jika ada yang penting saja. Sekarang mentang-mentang semua bisa online dan cepat, yang receh aja langsung diunggah ke sosmed atau dibahas di grup Whatsapp.

Beberapa grup Whatsapp cukup penting untuk sosialisasi (misalnya grup alumni) dan memang harus ada (grup kepengurusan ekskul untuk koordinasi atau kelas online). Tapi itu juga nggak semuanya harus dilihat. Khusus grup yang isinya mulai nyampah (gosip, ngomongin hal khilafiyah, menyudutkan golongan tertentu, apalagi mulai menjelek-jelekkan agama atau post berbau pornografi), bhaaay gudbhaaay… Izin left grup ya, Kak.

PErihal obrolan di grup Whatsapp ini, seringkali cara terbaik untuk menyikapinya adalah dengan pemikiran “menarik, tapi nggak tertarik”. Saya menghindari kegiatan “meramaikan grup setiap hari”, karenaaaa… DUDE, I SHOULD NOT ALWAYS BE ON MY PHONE. Jadi kalau ada yang bilang “Kok WAG sepi, ya?” Ya biarin aja, Bambaaankkkk… Orang juga punya kehidupan di dunia nyata, kali. Daripada tergoda, beberapa kali saya meletakkan HP saya di kamar saat jam belajarnya anak-anak. Jalan-jalan sore juga nggak bawa HP, paling tinggal kasih tau aja ke suami, kalau jam sekian belum pulang tolong dicari :p (ada beberapa kejadian anak saya jatuh dari sepeda, luka, dan nggak bisa pulang naik sepedanya sehingga saya terpaksa minta dijemput pakai mobil hahaha…)

Begitu pula dengan medsos. Sebenarnya saya merasa banyakan mudharat daripada manfaatnya, ya, terutama Twitter (sungguh refleksi sisi tergelap isi hati manusia, hahaha). Tapi tidak dipungkiri, terkadang kita perlu buka juga kalau kita mau tahu kabar terbaru dari teman-teman kita.

Prinsip saya dalam bermedsos adalah wajib bermanfaat dan/atau membahagiakan. Kalau nggak bikin saya merasa dua-duanya, ya tinggal mute, unfollow, atau quit. Jadi nggak ada lagi tuh ya cerita misuh-misuh gara-gara postingan medsos orang (baik yang kita kenal maupun nggak) yang bikin emosi. Kalo perlu block aja sekalian, hahaha…

Teknik Pomodoro

Sudah mengalokasikan waktu, kondisi sudah kondusif buat kerja, tapi kok rasanya MAGER? Kadang-kadang saya suka merasa jiper duluan dengan kerjaan yang bertumpuk di depan mata, ujung-ujungnya waktu saya jadi habis buat meratapi banyaknya kerjaan, deh. Haha. Nah, untuk kasus orang-orang jiper kayak saya ini, ada teknik menarik yang patut dicoba supaya kita bisa lebih fokus bekerja, namanya Teknik Pomodoro.

SUmber: https://www.djkn.kemenkeu.go.id/files/images/2020/08/What-is-Pomodoro-Technique-and-How-to-Utilize-it-to-Maximize-Productivity_-520×273.jpg

Yup, seperti yang tertulis di gambar, kita bisa memecah waktu kerja kita menjadi per 25 menit saja. Sedikit-sedikit, tapi lama-lama menjadi bukit. Bekerja selama 25 menit tidak terdengar begitu mengerikan, dibanding bekerja selama 3 jam langsung. Setelah 25 menit, kita boleh mengambil rehat 5 menit, untuk kemudian kita ulangi siklus ini sampai 4 kali. Setelah siklus keempat, kita bisa beristirahat selama 15 menit.

Sumber: http://www.djkn.kemenkeu.go.id/files/images/2020/08/1_y1IS6A8SkV45YL8ERRPSYQ.jpeg

Dengan membagi fokus kita ke rentang waktu yang lebih singkat, tanpa terasa, pekerjaan kita sudah selesai, deh 🙂

Jangan Lupa…

Semua yang saya tuliskan di sini hanyalah rangkaian sebab-sebab kita bisa fokus dalam bekerja dan menjadikan waktu kita semakin berkah. Pada akhirnya, kemudahan itu datangnya dari Allah, maka jangan lupa berdoa dan meminta kepada-Nya agar kita diberi taufik dan hidayah untuk mengerjakan hal-hal yang bermanfaat 😉

Sudah siap untuk fokus dan menyelsaikan pekerjaan kita hari ini?

Prioritas

Aku bukan orang yang suka menyusun resolusi tahun baru, karena kemarin-kemarin disusun juga nggak kesampean jadi ya males, hahaha. Tapi sebenarnya nggak boleh gitu juga sih, karena saya sendiri merasakan dampak positif sebuah niat yang dituliskan (dan beneran kejadian, bi idznillah!). Jadi mungkin di sini aku mau menuliskan rencana saya ke depan ya…

Aku merasa kayaknya aku semakin jauh dari diri dan visi saya yang sebenarnya, entah kenapa. Apa kebanyakan screen time dan “ngobrol” nggak penting sama orang-orang di WA, ya? Kalau kata teman yang influencer, zaman sekarang salah satu hal yang sama atau lebih berharga daripada uang adalah engagement, so choose how you spend your attention wisely.

Jadi aku pun mempertanyakan…

Pentingkah membalas semua chat yang muncul di grup?

Pentingkah “meramaikan” grup chat? (Toh yang sama-sama bertanggung jawab juga banyaknya diem-diem aja?)

Hahaha, yah, seperlunya ajalah. Suami aja bisa secukupnya aja untuk kerjaan kantornya, kenapa aku nggak bisa juga secukupnya aja untuk kerjaan organisasi? Yang penting memberi manfaat.

Jadi ingat sebuah puisi yang kubuat Februari setahun silam.

I’m just a name,

Happen to be in your phonebook

Sometimes we talk

We laughed it with emoticons, and that’s it

Sometimes I said things

You’ll read it and that’s it

Sometimes I share useful things

You’ll say thanks and that’s it

Someday I’ll be gone,

And I might always be

That one name in your phonebook

You’ll copy paste the condolences,

And that’s it.

Puisi ini kutulis setelah kematian seorang teman. Menariknya, hampir setahun dia berpulang, masih banyak teman-teman yang ingat dan rindu padanya. Beda dengan beberapa selebriti yang meninggal beberapa waktu yang lalu – seringkali aku lupa kalau mereka sudah nggak ada. Saking nggak relevannya mereka terhadap diriku.

Sedih banget, ya. Sering muncul di TV dan media, tapi nggak relevan untuk hidup orang lain. Begitu nggak ada, dengan cepat akan menguap dan terlupakan.

Dan aku, apakah akan jadi seperti itu? Di grup WA yang aku ikuti, mengikuti obrolan ini dan itu, lalu setelah aku tiada aku hanyalah tinggal sebuah nama yang pernah ada dan kemudian terlupakan. Naudzubillahi min dzaalik. Nggak gitu caraku ingin pergi dari dunia ini.

Makanya aku mengawali tahun dengan meninggalkan grup-grup yang nggak membawa manfaat bagiku.

Dan isu-isu di luar sana, yang mana yang penting untuk diketahui dan ditanggapi?

Beberapa bulan terakhir ini aku merasa damai banget nggak baca koran dan nggak nonton berita, because i kinda know, only shit happens out there and besides of praying, there’s nothing much i can do about it. Covid nggak beres-beres? Ya gimana dong, aku mah rakyat jelata cuma bisa pake masker, jaga jarak dan cuci tangan. Tiga-tiganya udah dikerjain, dan selain berdoa, aku ya nggak bisa gimana-gimana juga buat “nyolek” pemerintah buat meningkatkan kinerjanya. Well, i did “nyolek” beberapa teman di pemerintahan dan memberikan beberapa saran, that’s what i can do with my previlege. But that’s it. Aku capek, dan prioritas utamaku adalah ngurus anak. Ngapain aku jungkir balik ngeluhin kapasitas testing Indonesia yang sedikit banget, kalo akhirnya itu bikin anak-anak nggak keurus.

Pada akhirnya, aku hanya ingin memulai tahun ini dengan benar. Usiaku sudah semakin tua, konyol ah kalau kerjanya main-main saja.

Semoga setelah hari ini, aku bisa fokus menulis dan meninggalkan karya-karya yang bermanfaat sebelum aku meninggalkan dunia ini.